Hong Ulun Basuki Langgeng

Hong Ulun Basuki Langgeng adalah ungkapan masyarakat Bromo Tengger yang meyakini Tuhan Yang Maha Tunggal. Ungkapan ini juga berarti "semoga Shang Hyang Widhi senantiasa memberikan kedamaian, kemakmuran dan kesehatan kepada kita semua". Ungkapan ini menjadi ungkapan selamat datang kepada Anda semua yang datang dari penjuru nusantara untuk menikmati keindahan panorama Gunung Bromo.

Selain menyajikan keindahan alam pegunungan, berwisata di obyek wisata Gunung Bromo juga bisa memperkaya khasanah budaya kita. Disini, kita akan disuguhi dengan budaya masyarakat Tengger yang mungkin sedikit berbeda dengan masyarakat Jawa yang hidup berdampingan dengan mereka. Selain bahasa yang sedikit berbeda, mereka juga memiliki sedikit perbedaan dalam cara berpakaian. Walaupun memiliki sedikit persamaan seperti halnya masyarakat pertanian di jawa yang menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. Salah satu yang paling menonjol dan membedakan masyarakat Tengger dengan Jawa adalah ciri khas mereka yang menggunakan udeng dan sarung. Udeng yang biasa dipakai masyarakat Tengger adalah udeng yang harus dipakai sendiri (atau dibantu),karena mereka tidak diperbolehkan menggunakan udeng yang telah jadi (seperti udeng Bali atau blangkon Jogja). Untuk pakaian resmi, kaum laki laki di Tengger menggunakan beskap, celana panjang hitam dan dua kain berwarna kuning (kampuh) yang dipakai dengan dislempangkan dan satu lagi dipakai melingkar di perut seperti sabuk.

Jangan salah, masyarakat Tengger juga memiliki 7 cara memakai sarung, masing-masing dengan istilah dan kegunaan sendiri.
Cekidot...........
1. Kekaweng
Cara pakai: sarung dilipat dua kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang. Kedua ujungnya diikat jadi satu.

Fungsi: Untuk ke pasar/ambil air.
Larangan: Gak boleh untuk bertamu atau melayat.

2. Sesembong
Cara pakai: sarung dilingkarkan dipinggang dan diikatkan seperti dodot (diatas perut dibawah dada) agar tidak mudah terlepas.

Fungsi: untuk bekerja di ladang atau pekerjaan berat lain.

3. Sempetan (sempretan)
Cara pakai: ujung sarung dilipat sampai ke garis pinggang (sama dengan masyarakat pada umumnya).

Fungsi: untuk bertamu 


4. Kekemul
Sementara itu, pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan, mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Setelah disarungkan pada tubuh, bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya, kemudian digantungkan di pundak.

5. Sengkletan
Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada

6. Kekodong
Cara lain yang sangat khas, yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat - tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala, sehingga yang terlihat hanya mata saja.

7. Sampiran
Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri, yang disebut sampiran. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya.




Note: artikel ini diambil dari beberapa sumber yang kemudian saya tuliskan kembali dengan bahasa saya sendiri dengan tujuan untuk berbagi. Saya sendiri adalah suku Jawa muslim.Mohon maaf apabila ada yang salah,silakan sampaikan di kolom komentar. Terima kasih,semoga bermanfaat..
Salam

Nikmati kekayaan budaya masyarakat Tengger ini saat Anda berwisata ke Bromo. Pesan homestay :
SMS/Tlp:082330201684
email:yuni.rozuqi@gmail.com

Share :

Facebook Twitter Google+